# Teori 'Burung di Tangan' dalam Investasi

*English: Understanding the Bird in Hand Theory in Investing*

> Pahami teori 'burung di tangan' dalam investasi: preferensi investor pada dividen dibanding potensi capital gain karena ketidakpastian.

**Definisi:** Teori 'burung di tangan' adalah pandangan bahwa investor lebih memilih dividen dari saham daripada potensi keuntungan modal (capital gains) karena ketidakpastian yang melekat pada capital gains.

**URL:** https://invespedia.belajarforex.co.id/b/bird_in_hand

---

## Memahami Teori 'Burung di Tangan' dalam Investasi

### Poin Penting

## Apa Itu 'Burung di Tangan'?

'Burung di tangan' adalah sebuah teori yang menyatakan bahwa investor lebih menyukai dividen dari investasi saham dibandingkan potensi keuntungan modal (capital gains) karena ketidakpastian yang melekat pada capital gains. Teori ini didasarkan pada peribahasa, "seekor burung di tangan lebih berharga daripada dua di semak-semak."

Dividen dipandang sebagai imbal hasil yang stabil dari saham, menawarkan pendapatan yang dapat diprediksi, tidak seperti capital gains, yang lebih berisiko dan bergantung pada kondisi pasar. Kita akan menguraikan teori ini beserta implikasinya dan beberapa contoh.

## Bagaimana Teori 'Burung di Tangan' Membentuk Preferensi Investor

Myron Gordon dan John Lintner mengembangkan teori 'burung di tangan' sebagai tandingan terhadap teori ketidakrelevanan dividen Modigliani-Miller. Teori ketidakrelevanan dividen menyatakan bahwa investor tidak peduli apakah imbal hasil mereka dari memegang saham berasal dari dividen atau capital gains. Berdasarkan teori 'burung di tangan', saham dengan pembayaran dividen yang tinggi dicari oleh investor dan, akibatnya, memiliki harga pasar yang lebih tinggi.

### Penting

Investor yang menganut teori 'burung di tangan' percaya bahwa dividen lebih pasti daripada capital gains.

## Membandingkan Teori 'Burung di Tangan' dengan Investasi Capital Gains

Investasi pada capital gains sebagian besar didasarkan pada spekulasi. Seorang investor mungkin mendapatkan keuntungan dalam capital gains dengan melakukan riset ekstensif tentang perusahaan, pasar, dan ekonomi makro. Namun, pada akhirnya, kinerja saham bergantung pada banyak faktor yang berada di luar kendali investor.

Untuk alasan ini, investasi capital gains mewakili sisi "dua di semak-semak" dari peribahasa tersebut. Investor mengejar capital gains karena ada kemungkinan keuntungan tersebut bisa besar, tetapi sama mungkinnya capital gains tidak ada atau, lebih buruk lagi, negatif.

Indeks pasar saham yang luas seperti Dow Jones Industrial Average (DJIA) dan Standard & Poor's (S&P) 500 telah mencatat rata-rata imbal hasil tahunan hingga 10% dalam jangka panjang. Menemukan dividen setinggi itu sulit. Bahkan saham di industri yang terkenal dengan dividen tinggi, seperti utilitas dan telekomunikasi, cenderung mencapai puncaknya di 5%. Namun, jika sebuah perusahaan telah membayar imbal hasil dividen sebesar, misalnya, 5% selama bertahun-tahun, menerima imbal hasil tersebut di tahun tertentu lebih mungkin daripada mendapatkan 10% dalam capital gains.

Selama tahun-tahun seperti 2001 dan 2008, indeks pasar saham yang luas mencatat kerugian besar, meskipun cenderung naik dalam jangka panjang. Di tahun-tahun serupa, pendapatan dividen lebih andal dan aman; oleh karena itu, tahun-tahun yang lebih stabil ini dikaitkan dengan teori 'burung di tangan'.

## Keterbatasan Strategi 'Burung di Tangan'

Investor legendaris Warren Buffett pernah berpendapat bahwa dalam hal investasi, apa yang nyaman jarang menguntungkan. Investasi dividen sebesar 5% per tahun memberikan imbal hasil dan keamanan yang hampir terjamin. Namun, dalam jangka panjang, investor dividen murni menghasilkan uang jauh lebih sedikit daripada investor capital gains murni. Selain itu, selama beberapa tahun, seperti akhir 1970-an, pendapatan dividen, meskipun aman dan nyaman, tidak cukup bahkan untuk mengimbangi inflasi.

## Contoh Nyata Strategi 'Burung di Tangan'

Sebagai saham yang membayar dividen, Coca-Cola (KO) akan menjadi saham yang sesuai dengan strategi investasi berdasarkan teori 'burung di tangan'. Menurut Coca-Cola, perusahaan mulai membayar dividen triwulanan reguler sejak tahun 1920-an. Selanjutnya, perusahaan telah meningkatkan pembayaran ini setiap tahun sejak 1964.


## FAQ

**Apa inti dari teori 'burung di tangan' dalam investasi?**
Teori 'burung di tangan' menyatakan bahwa investor lebih memilih dividen yang pasti dari saham daripada potensi keuntungan modal (capital gains) yang tidak pasti.

**Mengapa investor lebih menyukai dividen menurut teori ini?**
Investor menyukai dividen karena dianggap sebagai imbal hasil yang stabil dan dapat diprediksi, sementara capital gains bergantung pada kondisi pasar yang tidak pasti dan berisiko.

**Siapa yang mengembangkan teori 'burung di tangan'?**
Teori ini dikembangkan oleh Myron Gordon dan John Lintner sebagai tandingan terhadap teori ketidakrelevanan dividen Modigliani-Miller.

**Apa contoh saham yang cocok dengan strategi 'burung di tangan'?**
Coca-Cola (KO) adalah contoh saham yang cocok, karena perusahaan ini telah membayar dividen secara konsisten dan meningkatkannya setiap tahun sejak lama.

**Apa kelemahan utama dari strategi 'burung di tangan'?**
Kelemahan utamanya adalah dalam jangka panjang, investor dividen murni cenderung menghasilkan uang lebih sedikit dibandingkan investor capital gains murni, dan dividen terkadang tidak mampu mengimbangi inflasi.