# Teori Konflik: Definisi, Pendiri, dan Contoh

*English: Conflict Theory Explained: Definition, Founder, and Key Examples*

> Pahami Teori Konflik, teori sosiopolitik yang menjelaskan perjuangan kekuasaan dan sumber daya terbatas dalam masyarakat.

**Definisi:** Teori konflik adalah teori sosial yang menyatakan bahwa masyarakat berada dalam konflik abadi karena persaingan memperebutkan sumber daya yang terbatas.

**URL:** https://invespedia.belajarforex.co.id/c/conflict_theory

---

## Apa Itu Teori Konflik?

Teori konflik, yang dikaitkan dengan Karl Marx, adalah teori sosial yang menyatakan bahwa masyarakat berada dalam keadaan konflik abadi karena persaingan memperebutkan sumber daya yang terbatas.

Teori konflik berpendapat bahwa tatanan sosial dipertahankan melalui dominasi dan kekuasaan, bukan melalui konsensus dan kepatuhan. Menurut teori konflik, mereka yang memiliki kekayaan dan kekuasaan berusaha mempertahankannya dengan cara apa pun, terutama dengan menindas kaum miskin dan tidak berdaya. Premis dasar teori konflik adalah bahwa individu dan kelompok dalam masyarakat akan berusaha memaksimalkan kekayaan dan kekuasaan mereka sendiri.

Theresa Chiechi / Investopedia

## Memahami Mekanisme Teori Konflik

Para filsuf dan sosiolog telah lama berusaha menggunakan teori konflik untuk menjelaskan berbagai fenomena, termasuk perang, revolusi, kemiskinan, diskriminasi, dan kekerasan dalam rumah tangga.

Versi teori konflik Marx berfokus pada konflik antara dua kelas utama. Setiap kelas terdiri dari sekelompok orang yang terikat oleh kepentingan bersama dan tingkat kepemilikan properti tertentu. Marx berteori tentang borjuis, yaitu kelompok yang mewakili anggota masyarakat yang memegang mayoritas kekayaan dan alat produksi. Proletariat adalah kelompok lain, yang terdiri dari mereka yang dianggap sebagai kelas pekerja atau miskin.

Dengan munculnya kapitalisme, Marx berteori bahwa borjuis, minoritas dalam populasi, akan menggunakan pengaruh mereka untuk menindas proletariat, kelas mayoritas. Cara berpikir ini terkait dengan citra umum yang diasosiasikan dengan model masyarakat berbasis teori konflik. Penganut filosofi ini cenderung percaya pada susunan piramida dalam hal distribusi barang dan jasa dalam masyarakat. Di puncak piramida adalah sekelompok kecil elit yang menentukan syarat dan ketentuan bagi sebagian besar masyarakat karena mereka memiliki kendali yang tidak proporsional atas sumber daya dan kekuasaan.

Distribusi yang tidak merata dalam masyarakat diprediksi akan dipertahankan melalui paksaan ideologis; borjuis akan memaksa proletariat untuk menerima kondisi yang ada. Teori konflik mengasumsikan bahwa elit akan membentuk sistem hukum, tradisi, dan struktur sosial lainnya untuk lebih mendukung dominasi mereka sendiri sambil mencegah orang lain bergabung dengan barisan mereka.

Marx berteori bahwa, seiring kondisi kelas pekerja dan kaum miskin semakin memburuk, kesadaran kolektif akan meningkatkan kesadaran tentang ketidaksetaraan, dan ini berpotensi mengakibatkan pemberontakan. Jika, setelah pemberontakan, kondisi disesuaikan untuk mendukung kepentingan proletariat, lingkaran konflik pada akhirnya akan berulang tetapi dalam arah yang berlawanan. Borjuis pada akhirnya akan menjadi agresor dan pemberontak, berusaha merebut kembali struktur yang sebelumnya mempertahankan dominasi mereka.

## Pertimbangan Khusus

Marx memandang kapitalisme sebagai bagian dari perkembangan historis sistem ekonomi. Ia percaya kapitalisme berakar pada komoditas, atau barang yang dibeli dan dijual. Misalnya, ia percaya bahwa tenaga kerja adalah jenis komoditas. Karena buruh memiliki sedikit kendali atau kekuasaan dalam sistem ekonomi (karena mereka tidak memiliki pabrik atau bahan), nilai mereka dapat terdevaluasi seiring waktu. Hal ini dapat menciptakan ketidakseimbangan antara pemilik bisnis dan pekerja mereka, yang pada akhirnya dapat menyebabkan konflik sosial. Ia percaya masalah ini pada akhirnya akan diperbaiki melalui revolusi sosial dan ekonomi.

## Adaptasi Teori Konflik Marxis

Max Weber, seorang sosiolog, filsuf, ahli hukum, dan ekonom politik Jerman, mengadaptasi banyak aspek teori konflik Marxis dan kemudian menyempurnakan beberapa gagasan Marx. Weber percaya bahwa konflik atas properti tidak terbatas pada satu skenario spesifik. Sebaliknya, ia percaya bahwa ada banyak lapisan konflik yang ada pada saat tertentu dan dalam setiap masyarakat.

Sementara Marx membingkai pandangannya tentang konflik sebagai antara pemilik dan pekerja, Weber juga menambahkan komponen emosional pada gagasan konflik. Keyakinan Weber tentang konflik melampaui Marx karena mereka menunjukkan bahwa beberapa bentuk interaksi sosial, termasuk konflik, menghasilkan keyakinan dan solidaritas antara individu dan kelompok dalam masyarakat. Dengan cara ini, reaksi individu terhadap ketidaksetaraan mungkin berbeda tergantung pada kelompok yang mereka asosiasikan; apakah mereka menganggap penguasa itu sah; dan seterusnya.

Teoretikus konflik abad ke-20 dan ke-21 akhir terus memperluas teori konflik di luar kelas ekonomi ketat yang dikemukakan oleh Marx, meskipun hubungan ekonomi tetap menjadi fitur inti dari ketidaksetaraan antar kelompok dalam berbagai cabang teori konflik. Teori konflik sangat berpengaruh dalam teori modern dan postmodern tentang ketidaksetaraan seksual dan rasial, studi perdamaian dan konflik, dan berbagai studi identitas yang muncul di akademisi Barat dalam beberapa dekade terakhir.

## Contoh Teori Konflik

Teoretikus konflik memandang hubungan antara pemilik kompleks perumahan dan penyewa sebagai berdasarkan konflik, bukan keseimbangan atau harmoni, meskipun mungkin ada lebih banyak harmoni daripada konflik. Mereka percaya bahwa mereka didefinisikan oleh perolehan sumber daya apa pun yang mereka bisa dari satu sama lain.

Dalam contoh di atas, beberapa sumber daya terbatas yang dapat berkontribusi pada konflik antara penyewa dan pemilik kompleks termasuk ruang terbatas di dalam kompleks, jumlah unit yang terbatas, uang yang dibayarkan penyewa kepada pemilik kompleks untuk sewa, dan seterusnya. Pada akhirnya, teoretikus konflik melihat dinamika ini sebagai konflik atas sumber daya tersebut.

Pemilik kompleks, betapapun murah hatinya, pada dasarnya berfokus pada pengisian unit apartemen sebanyak mungkin sehingga mereka dapat menghasilkan uang sewa sebanyak mungkin, terutama jika tagihan seperti hipotek dan utilitas harus ditanggung. Hal ini dapat menimbulkan konflik antara kompleks perumahan, di antara calon penyewa yang ingin pindah ke apartemen, dan seterusnya. Di sisi lain konflik, penyewa sendiri berusaha mendapatkan apartemen terbaik dengan biaya sewa sekecil mungkin.

Krisis keuangan tahun 2008 dan bailout bank berikutnya adalah contoh bagus dari teori konflik dalam kehidupan nyata, menurut penulis Alan Sears dan James Cairns dalam buku mereka "A Good Book, in Theory." Mereka memandang krisis keuangan sebagai hasil yang tak terhindarkan dari ketidaksetaraan dan ketidakstabilan sistem ekonomi global, yang memungkinkan bank dan institusi terbesar untuk menghindari pengawasan pemerintah dan mengambil risiko besar yang hanya memberi penghargaan kepada segelintir orang.

Sears dan Cairns mencatat bahwa bank besar dan bisnis besar kemudian menerima dana talangan dari pemerintah yang sama yang mengaku tidak memiliki dana yang cukup untuk program sosial skala besar seperti perawatan kesehatan universal. Dikotomi ini mendukung asumsi fundamental teori konflik, yaitu bahwa institusi politik arus utama dan praktik budaya mendukung kelompok dan individu dominan.

Contoh ini mengilustrasikan bahwa konflik dapat melekat dalam semua jenis hubungan, termasuk yang di permukaan tidak tampak antagonistik. Ini juga menunjukkan bahwa bahkan skenario yang lugas dapat menyebabkan banyak lapisan konflik.

## Apa Itu Teori Konflik?

Teori konflik adalah teori sosiopolitik yang sangat terkait dengan Karl Marx. Teori ini berusaha menjelaskan peristiwa politik dan ekonomi dalam hal perjuangan berkelanjutan atas sumber daya yang terbatas. Dalam perjuangan ini, Marx menekankan hubungan antagonistik antara kelas sosial, khususnya hubungan antara pemilik modal—yang disebut Marx sebagai "borjuis"—dan kelas pekerja, yang ia sebut "proletariat." Teori konflik memiliki pengaruh besar pada pemikiran abad ke-19 dan ke-20 dan terus memengaruhi perdebatan politik hingga saat ini.

## Apa Saja Kritik Umum Terhadap Teori Konflik?

Salah satu kritik umum terhadap teori konflik adalah bahwa teori ini gagal menangkap cara interaksi ekonomi dapat saling menguntungkan berbagai kelas yang terlibat. Misalnya, teori konflik menggambarkan hubungan antara pemberi kerja dan karyawan sebagai konflik, di mana pemberi kerja ingin membayar sekecil mungkin untuk tenaga kerja karyawan, sementara karyawan ingin memaksimalkan upah mereka. Dalam praktiknya, bagaimanapun, karyawan dan pemberi kerja sering memiliki hubungan yang harmonis. Selain itu, institusi seperti rencana pensiun dan kompensasi berbasis saham dapat semakin mengaburkan batas antara pekerja dan perusahaan dengan memberi pekerja saham tambahan dalam keberhasilan pemberi kerja mereka.

## Siapa yang Diakui Menciptakan Teori Konflik?

Para filsuf dan sosiolog telah lama menggunakan teori konflik untuk menganalisis masyarakat.

Teori konflik Marxis mengacu pada teori konflik sebagaimana dikemukakan oleh filsuf politik abad ke-19, yang memimpin pengembangan komunisme sebagai aliran pemikiran dalam ekonomi. Dua karya Marx yang paling terkenal adalah The Communist Manifesto, yang ia terbitkan pada tahun 1848; dan Das Kapital, yang diterbitkan pada tahun 1867. Meskipun ia hidup pada abad ke-19, Marx memiliki pengaruh besar pada politik dan ekonomi pada abad ke-20 dan umumnya dianggap sebagai salah satu pemikir paling berpengaruh dan kontroversial dalam sejarah.

## Intinya

Teori konflik menyiratkan bahwa masyarakat selalu dalam konflik karena kekuasaan ekonomi, ketidaksetaraan dalam struktur sosial, dan persaingan memperebutkan sumber daya yang terbatas. Karl Marx telah dikaitkan erat dengan teori konflik. Versinya berfokus pada persaingan antara dua kelas utama.

Teori konflik juga telah diadaptasi oleh orang lain selama beberapa dekade, termasuk Max Weber, seorang sosiolog, filsuf, ahli hukum, dan ekonom politik Jerman.


## FAQ

**Apa inti dari Teori Konflik?**
Inti dari Teori Konflik adalah bahwa masyarakat selalu berada dalam keadaan konflik karena persaingan memperebutkan sumber daya yang terbatas, dan tatanan sosial dipertahankan melalui dominasi dan kekuasaan.

**Siapa pendiri utama Teori Konflik?**
Karl Marx adalah tokoh utama yang dikaitkan dengan Teori Konflik, yang berfokus pada konflik antara kelas borjuis (pemilik modal) dan kelas proletariat (pekerja).

**Bagaimana Teori Konflik menjelaskan ketidaksetaraan?**
Teori Konflik menjelaskan ketidaksetaraan sebagai hasil dari kelompok yang berkuasa menggunakan dominasi dan kekuasaan mereka untuk mempertahankan sumber daya dan keuntungan, seringkali dengan menindas kelompok yang kurang beruntung.

**Siapa Max Weber dan bagaimana ia berkontribusi pada Teori Konflik?**
Max Weber adalah seorang sosiolog yang mengadaptasi dan menyempurnakan Teori Konflik Marx, dengan menambahkan komponen emosional dan berpendapat bahwa ada banyak lapisan konflik yang ada dalam masyarakat, tidak hanya terbatas pada kelas ekonomi.

**Apa contoh nyata dari Teori Konflik?**
Krisis keuangan 2008 dan bailout bank berikutnya adalah contoh nyata, di mana bank-bank besar menerima dana talangan sementara program sosial skala besar kekurangan dana, menunjukkan bagaimana institusi politik cenderung mendukung kelompok dominan.