# Derajat Pengungkit Keuangan (DFL): Pengaruhnya pada Laba Per Saham

*English: The Power of Financial Leverage: How DFL Influences Earnings Per Share*

> Pelajari Derajat Pengungkit Keuangan (DFL) dan bagaimana rasio ini mengukur sensitivitas laba per saham terhadap perubahan pendapatan operasional.

**Definisi:** Derajat Pengungkit Keuangan (DFL) adalah rasio yang mengukur sensitivitas laba per saham (EPS) perusahaan terhadap perubahan pendapatan operasional akibat struktur modalnya.

**URL:** https://invespedia.belajarforex.co.id/d/dfl

---

## Apa Itu Derajat Pengungkit Keuangan?

Derajat Pengungkit Keuangan (DFL) adalah rasio yang krusial untuk memahami pengungkit keuangan sebuah perusahaan. DFL mengukur sensitivitas laba per saham (EPS) perusahaan terhadap fluktuasi pendapatan operasionalnya. Fluktuasi ini timbul dari perubahan struktur modalnya. DFL menyajikan persentase perubahan EPS untuk setiap unit perubahan pendapatan operasional.

DFL memainkan peran penting dalam perencanaan strategis karena dapat menunjukkan volatilitas laba yang lebih besar berdasarkan tingkat pengungkit keuangan yang lebih tinggi. Manajemen eksekutif dapat menggunakan DFL sebagai panduan untuk mengelola utang dan struktur modal.

## Rumus Derajat Pengungkit Keuangan

DFL = % perubahan EPS / % perubahan EBIT

Anda juga dapat menghitung DFL menggunakan persamaan berikut:

DFL = EBIT / (EBIT - Bunga)

## Menganalisis Wawasan dari Derajat Pengungkit Keuangan

Semakin tinggi DFL, semakin fluktuatif laba per saham (EPS) akan terjadi. DFL sangat berharga dalam membantu perusahaan menilai jumlah utang atau pengungkit keuangan yang harus dipilih dalam struktur modalnya. Jika pendapatan operasional stabil, laba dan EPS juga akan stabil, memungkinkan perusahaan untuk mengambil lebih banyak utang. Sebaliknya, di sektor-sektor dengan pendapatan operasional yang fluktuatif, sebaiknya menjaga tingkat utang pada level yang dapat dikelola.

Penggunaan pengungkit keuangan sangat bervariasi berdasarkan industri dan sektor bisnis. Perusahaan di banyak industri beroperasi dengan DFL yang tinggi. Toko ritel, maskapai penerbangan, toko kelontong, perusahaan utilitas, dan lembaga perbankan adalah contoh klasik. Penggunaan pengungkit keuangan yang berlebihan telah menyebabkan beberapa perusahaan di sektor-sektor ini mengajukan kebangkrutan Bab 11.

Contohnya termasuk R.H. Macy (1992), Trans World Airlines (2001), Great Atlantic & Pacific Tea Co (A&P) (2010), dan Midwest Generation (2012). Pengungkit keuangan yang berlebihan merupakan faktor kunci dalam krisis keuangan AS 2007-2009. Kejatuhan Lehman Brothers pada tahun 2008 dan lembaga-lembaga yang menggunakan pengungkit lainnya mencontohkan risiko pengungkit yang berlebihan.

## Contoh Aplikasi DFL di Dunia Nyata

Perhatikan contoh berikut untuk mengilustrasikan konsepnya. Asumsikan perusahaan hipotetis BigBox Inc. memiliki pendapatan operasional atau laba sebelum bunga dan pajak (EBIT) sebesar $100 juta pada Tahun 1, dengan beban bunga sebesar $10 juta, dan memiliki 100 juta saham beredar. (Demi kejelasan, mari kita abaikan efek pajak untuk saat ini.)

EPS untuk BigBox pada Tahun 1 adalah sebagai berikut:

(Pendapatan Operasional $100 Juta - $10 Juta Beban Bunga) / 100 Juta Saham Beredar = $0.90

Derajat Pengungkit Keuangan (DFL) adalah:

$100 Juta / ($100 Juta - $10 Juta) = 1.11

Ini berarti bahwa untuk setiap perubahan 1% pada EBIT atau pendapatan operasional, EPS akan berubah sebesar 1.11%.

Sekarang asumsikan bahwa BigBox mengalami peningkatan 20% dalam pendapatan operasional pada Tahun 2. Perlu dicatat, beban bunga tetap tidak berubah sebesar $10 juta pada Tahun 2 juga. EPS untuk BigBox pada Tahun 2 adalah sebagai berikut:

(Pendapatan Operasional $120 Juta - $10 Juta Beban Bunga) / 100 Juta Saham Beredar = $1.10

Dalam kasus ini, EPS telah meningkat dari 90 sen pada Tahun 1 menjadi $1.10 pada Tahun 2, yang mewakili perubahan sebesar 22.2%.

Ini juga dapat diperoleh dari angka DFL = 1.11 x 20% (perubahan EBIT) = 22.2%.

Jika EBIT menurun menjadi $70 juta pada Tahun 2, apa dampaknya terhadap EPS? EPS akan turun sebesar 33.3% (yaitu, DFL 1.11 x -30% perubahan EBIT). Ini dapat dengan mudah diverifikasi karena EPS, dalam kasus ini, akan menjadi 60 sen, yang mewakili penurunan 33.3%.

## Intinya

Derajat Pengungkit Keuangan (DFL) adalah metrik yang menilai seberapa sensitif EPS perusahaan terhadap perubahan pendapatan operasional yang terkait dengan struktur modal. DFL yang lebih tinggi menunjukkan laba yang lebih fluktuatif. Terlalu banyak pengungkit keuangan telah menyebabkan hasil keuangan yang merugikan, seperti kebangkrutan Lehman Brothers pada tahun 2008. Tingkat pengungkit keuangan yang dapat diterima dapat bervariasi tergantung pada sektor atau industri, dengan sektor ritel, maskapai penerbangan, dan utilitas sering beroperasi dengan DFL yang tinggi. Oleh karena itu, pemahaman menyeluruh tentang cara kerja DFL sangat penting untuk pengambilan keputusan keuangan strategis perusahaan.


## FAQ

**Apa yang diukur oleh Derajat Pengungkit Keuangan (DFL)?**
DFL mengukur sensitivitas laba per saham (EPS) perusahaan terhadap perubahan pendapatan operasionalnya yang disebabkan oleh struktur modal.

**Bagaimana DFL memengaruhi volatilitas laba?**
DFL yang lebih tinggi menunjukkan bahwa laba per saham (EPS) akan lebih fluktuatif sebagai respons terhadap perubahan pendapatan operasional.

**Bagaimana perusahaan menggunakan DFL dalam perencanaan strategis?**
Manajemen eksekutif menggunakan DFL sebagai panduan untuk mengelola utang dan struktur modal, membantu mereka menilai tingkat pengungkit keuangan yang sesuai.

**Apakah DFL yang tinggi selalu buruk?**
Tidak selalu. DFL yang tinggi dapat menguntungkan jika pendapatan operasional stabil, memungkinkan perusahaan untuk mengambil lebih banyak utang. Namun, di sektor dengan pendapatan yang fluktuatif, DFL yang tinggi dapat meningkatkan risiko.

**Sektor industri apa yang cenderung memiliki DFL tinggi?**
Sektor seperti ritel, maskapai penerbangan, toko kelontong, utilitas, dan perbankan sering beroperasi dengan DFL yang tinggi.